Persalinan caesar adalah melahirkan janin melalui irisan pada dinding perut (laparotoni) dan dinding uterus (histerotomi). Persalinan caesar merupakan operasi besar yang hanya menjadi pilihan ketika kesehaan ibu dan atau anak terancam. Persalinan caesar tidak ditunjukan hanya demi kenyamanan dan kepentingan dokter atau orang tua atau alasan lain yang sifatnya non medis (Abu Bakar, 2002). Operasi caesar hanya di lakukan untuk menyelamatkan nyawa ibu yang melahirkan, maka logikanya kemajuan teknologi kedokteran akan membawa perubahan pada jumlah antara Angka Kematian Ibu yang melahirkan dan AKI yang harus menjalani operasi cesar, yaitu semakin kecil dari tahun ketahun (Astina, 2001).

AKI di Indonesia masih cukup tinggi dan penurunannya masih sangat lambat, yaitu pada tahun 1992, AKI adalah 425 per 100.000 kelahiran hidup, menurun menjadi 384 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1995. Masih sangat jauh dari Angka Kematian Ibu di negara singapura dan Malasia, yang tingkat kematiannya 5 dan 70 orang per seratus ribu kelahiran (Gloriant.org, 2000.a). Sementara di Sulawesi Selatan AKI pada tahun 1996 sebesar 170 per 100.000 kelahiran hidup, pada tahun 1997 sebesar 160 per 100.000 kelahiran hidup, pada tahun 1998 sebesar 192 per 100.000 kelahiran hidup, pada tahun 1999 sebesar 176 per 100.000 kelahiran hidup.

Di negara-negara berkembang kematian ibu disebabkan oleh kehamilan dan persalinan yang terlantar dan kehamilan yang tidak diinginkan, dan terbanyak disebabkan oleh eklamsia, pedarahan, infeksi, keguguran kandungan oleh sikap percobaan abortus provokatus yang dilakukan oleh yang tidak profesional, tetapi dengan kemajuan teknologi yang semakin canggih termasuk di bidang kedokteran, persalinan ibu yang mengalami komplikasi dapat di bantu dengan operasi caesar. Angka persalinan caesar di negara maju berkisar antara 5,3 % sampai 24,1 % selama periode 1980 – 1987, di Amerika Serikat angka persalinan caesar pada tahun 1986 adalah 24,1 %, sementara di Benua Asia seperti laporan dari Nanjhing (Cina) persalinan caesar sekitar 26,8 % dari seluruh persalinan, data Nasional Indonesi angka persalina caesar di 12 Rumah Sakit pendidikan antara 2,1 % – 11,8 %. Angka ini masih di atas angka yang di usul oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 1985 yaitu 10 % dari seluruh persalinan cear nasional (Wiakusuma, 1994)

Sementara pada tahun-tahun belakangan ini jumlah operasi caesar di negara-negara Eropa, seperti Inggris telah melambung tinggi, di beberapa daerah di Inggris 50 % dari kelahiran dilakukan dengan operasi caesar (Yahoo.comb, 2000) dan laporan dari wilayah Kartanaka utara India bahwa persalinan caesar dalam tahun 1999 meningkat 30 % dari seluruh persalinan (Hubli, 1999).
Saat ini operasi caesar menjadi trend karena berbagai alasan. Dalam 20 tahun terakhir angka operasi caesar meningkat pesat. Operasi ini kadang-kadang terlalu sering dilakukan sehingga para kritikus menyebutnya sebagai Panacea (obat mujarab) praktek kebidanan. Semakin moderen alat penunjang kesehatan, semakin baik obet-obat terutama anti biotik dan tingginya tuntutan terhadap dokter, menunjang meningkatnya angka operasi caesar di seluruh dunia (Seno Adjie, 2002).

Peningkatan operasi caesar di sebabkan karena operasi ini memberikan jalan keluar bagi kebanyakan kesulitan yang timbul pada tahap pertama dan kedua persalinan bila persalinan pervaginam tidak memungkinkan atau berbahaya (dudley, 1992), dan dengan semakin dikenalnya persalinan cesar maka ada sebagian masyarakat yang berpendapat untuk mengakhiri kehamilanya dengan persalinan caesar walaupun tanpa indikasi medis tertentu. Hal ini banyak dilakukan oleh ibu-ibu yang menganggap bahwa persalinan normal akan merusak vaginanya, mengurangi keharmonisan dengan suami dan untuk menjaga kecantikannya serta memili tanggal dan hari kelahiran (Musbir, 2000).

Dari segi keamanan tindakan operasi caesar umumnya sudah semakin aman, namun operasi ini tetap mempunyai banyak kelemahan. Beberapa kajian menunjukan bahwa operasi ini mempunyai mortalitas dan borbiditas yang lebih tinggi dan cenderung lebih muda di ikuti shok paska bedah (Dudley, 1992), dan menurut robin dan kawan-kawan seperti yang di kutip oleh Pritchard Mac Donald – Gant bahwa meskipun morbiditas dan mortalitas yang berhubungan dengan masalah-masalah yang mengakibatkan perlunya tindakan operasi caesar telah di singkirkan namun morbiditas ibu setelah operasi caesar lebih sering dan mungkil lebih berat daripada angka persalinan normal.

Di Rumah Sakit Pendidikan / Pusat Rujukan Dr. Hasansadikin Bandung pada periode 1981 – 1990 adalah 9,1 % dengan angka kematian berkisar 2,6 – 4,6 per 1000 operasi caesar, penyabab umum morbiditas pada kelahiran caesar adalah infeksi, perdarahan dan perlukaan saluran kencing (Wirakusuma, 1992) dan wanita yang menjalani operasi caesar 80 % lebih besar kemungkinannya untuk kembali masuk rumah sakit, sedang ibu yang melahirkan lewat vagina yang dengan di bantu, 30 % kemungkinannya mengalami masalah yang membutuhkan masalah perawatan rumah sakit (Yahoo.com, 2000).

Dinegara berkembang seperti indonesi kemungkinan terjadinya infeksi pasca salin yang tinggi adalah pada kasus operasi caesar, karena pada umumnya di lakukan pada ibu dan anak dalam keadaan gawat darurat, seperti pada penelitian yang di lakukan oleh Linus tahun 1998, bahwa Rumah Bersalin Mariem, dari 39 persalinan caesar terdapat 30 (76,9 %) dengan komplikasi antenatal, sehingga angka kesakitan ibu setelah persalinan caesar lebih sering daln lebih berat di banding paska persalinan pervagina.
Mengingat bahaya yang dapat ditimbulkan, maka menghindari persalinan caesar adalah penting, untuk itu perlu diperhatikan secara saksama faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya operasi caesar tersebut, sehingga dengan diketahuinya faktor-faktor tersebut diharapkan ibu yang sedang hamil dan terutama yang memiliki resiko untuk persalinan caesar dapat lebih menjaga dan memelihara kesehatan dirinya dan kandungannya melalui pelayanan kesehatan yang optimal.



Leave a Comment